Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa jumlah bioskop di Indonesia masih jauh dari angka normal. Saat ini, ungkap Sang Kepala Negara, terdapat sekitar 1.000 gedung bioskop untuk mencukupi kebutuhan sebuah negara dengan total penduduk sekitar 240 juta.
"Normalnya 5.000 hingga 6.000. Berarti masih kurang sekitar 4.000," ujar Jokowi dalam sambutan acara Peringatan Hari Film Nasional di Istana Negara, Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2015).
Ia bercerita, pada saat dirinya kecil dulu, ada tiga macam tempat menonton film. "Ada yang elit, ada yang rakyat, dan ada yang misbar (gerimis bubar, layar tancap di ruang terbuka). Kalau saya nontonnya di rakyat," kata dia.
Jokowi mengaku sedikit kecewa karena saat ini hanya ada satu macam tempat menonton film, yakni bioskop yang berada di mall-mall besar. "Yang dua tidak ada," kata dia.
Oleh karena itu, Presiden menekankan agar Badan Ekonomi Kreatif (BEK) dan kementerian terkait mampu memperbaiki kekurangan tersebut, dengan menambah jumlah gedung bioskop yang mampu diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Nanti industri perfilman bisa dibantu dengan insentif pemerintah, bisa insentif pajak, dan lain-lain. Karena tugas pemerintah untuk memberi dorongan. Kita punya pasar yang sangat besar sekali," kata dia.
Jokowi tidak mau industri film Indonesia dikuasai asing. "Jangan sampai industri kita yang tidak menguasai pasar, tapi malah entah film Holywood, Bolywood, Korea, Jepang yang justru menguasai pasar," ujar diaPresiden Joko Widodo menyebutkan bahwa jumlah bioskop di Indonesia masih jauh dari angka normal. Saat ini, ungkap Sang Kepala Negara, terdapat sekitar 1.000 gedung bioskop untuk mencukupi kebutuhan sebuah negara dengan total penduduk sekitar 240 juta.
"Normalnya 5.000 hingga 6.000. Berarti masih kurang sekitar 4.000," ujar Jokowi dalam sambutan acara Peringatan Hari Film Nasional di Istana Negara, Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2015).
Ia bercerita, pada saat dirinya kecil dulu, ada tiga macam tempat menonton film. "Ada yang elit, ada yang rakyat, dan ada yang misbar (gerimis bubar, layar tancap di ruang terbuka). Kalau saya nontonnya di rakyat," kata dia.
Jokowi mengaku sedikit kecewa karena saat ini hanya ada satu macam tempat menonton film, yakni bioskop yang berada di mall-mall besar. "Yang dua tidak ada," kata dia.
Oleh karena itu, Presiden menekankan agar Badan Ekonomi Kreatif (BEK) dan kementerian terkait mampu memperbaiki kekurangan tersebut, dengan menambah jumlah gedung bioskop yang mampu diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Nanti industri perfilman bisa dibantu dengan insentif pemerintah, bisa insentif pajak, dan lain-lain. Karena tugas pemerintah untuk memberi dorongan. Kita punya pasar yang sangat besar sekali," kata dia.
Jokowi tidak mau industri film Indonesia dikuasai asing. "Jangan sampai industri kita yang tidak menguasai pasar, tapi malah entah film Holywood, Bolywood, Korea, Jepang yang justru menguasai pasar," ujar dia.
Sumber: harianterbit
from Suaranews http://ift.tt/1GKgHFu
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself