Kasus pembredelan media yang utamanya adalah para media yang bergerak pada bidang berita islam, oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan Kominfo (Kementerian Komunikasi Dan Informatika). Ternyata semakin menyeruak karena ternyata pihak BNPT dan Kominfo tak mempunyai bukti apapun tentang beberapa situs berita Islam yang dianggap sebagai pendukung ISIS (Islamic State of Iraq and Syam/Syria).
Malah situs seperti Hidayatullah, Dakwatuna dan Muslimdaily dengan tegas sebagai situs anti ISIS. Hal ini diungkapkan saat berbincang-bincang dengan pihak BNPT.
Namun sayangnya berkali-kali pihak BNPT ditanya tentang konten apa yang dari situs mana saja yang dianggap mendukung ISIS dan radikalisme, lagi-lagi pihak BNPT hanya menjawab secara retorika. Tak mempunyai bukti jelas, pihak BNPT hanya berkutat paham radikal dan beberapa kali mengatakan “Tapi ada juga situs yang MUNGKIN apa karena kekhilafan atau karena ketidak sengajaan ada yang terlewatkan sehingga ada konten yang bila dibaca oleh remaja-remaja atau masyarakat yang awam terhadap agama kita akan bisa berakibat mereka menjadi radikal”
Kata MUNGKIN yang diungkapkan oleh kepala BNPT Saud Usman Nasution, dalam wawancara di TVONE, semakin mengungkapkan bahwa sebenarnya BNPT hanya sekedar menduga-duga, situs yang diadukan pada Kominfo dianggap sebagai pendukung ISIS. Ini menjadi preseden yang buruk bagi BNPT, karena nyatanya BNPT tidak benar-benar melakukan investigasi secara benar dan hanya menduga-duga.
Kata MUNGKIN tersebut jelas hanya sekedar prasangka tanpa dasar yang dilakukan BNPT untuk meminta pemblokiran situs berita Islam yang dianggap mendukung ISIS, padahal bukan.
Sama halnya dengan Prof. Dr. Irfan Idris yang merupakan juru bicara BNPT, kembali lagi kata MUNGKIN diucapkan oleh pihak BNPT. Sebagaimana diucapkan Prof. Dr. Irfan Idris dengan kalimat “MUNGKIN, di situs berita ada takfiri”. Tetapi sekali lagi ketika ditanya dimana letak yang dimaksud dalam situs berita yang ada takfirinya. Kembali lagi Prof. Dr. Irfan Idris tidak mampu menjawabnya.
Hal yang memalukan dan membuat Tifatul Sembiring sampai tertawa adalah ucapan seorang Prof. Dr. Irfan Idris mengenai domain DotCOM (.COM) dan CO.ID. Dengen entengnya sampai harus ngeles dengan menyatakan bahwa situs berita dan media Islam tersebut di bredel karena menggunakan domain DotCOM. Karena dianggap domain DotCOM adalah hanya boleh untuk negara Amerika Serikat saja. Dan hanya domain CO.ID yang boleh ada di Indonesia. Jika itu alasannya tentu semua situs berdomain COM harus di bredel, seperti DetikCOM, Vivanews.com, Kompas.com, dll.
BNPT Mengebiri MUI
Peran MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam masalah agama Islam adalah merupakan yang sangat vital. Apapun pokok mengenai fatwa halal dan haram, juga kesesatan, merupakan wewenang MUI bukan BNPT. Termasuk juga klaim tentang peran radikalisme yang dianggap cenderung melakukan kekerasan, termasuk paham takfiri yang tentu merupakan paham yang menyesatkan. Karena umat Islam dilarang mengucapkan kafir pada umat Islam yang lainnya.
Jika masalah situs media Islam, maka seharusnya dan wajib BNPT melakukan perbincangan yang mendalam bersama MUI. Nantinya fatwa dari pihak MUI yang menjadi rujukan apakah situs berita Islam atau situs media Islam tersebut adalah benar menyesatkan umat atau tidak. Bukan sekonyong-konyong melakukan permintaan pemblokiran kepada keminfo tanpa konsultasi bersama para ulama (MUI).
Ini sama saja BNPT telah melakukan upaya mengebiri wewenang ulama (MUI), karena MUI adalah sekumpulan para ulama dari berbagai kalangan yang tentu bisa memberikan gambaran jelas mengenai pemahaman Islam.
“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)
Kalau difikir baik-baik, BNPT malah pihak yang melakukan tindakan takfir (mengkafirkan) terhadap situs media Islam, karena BNPT menganggap situs media islam melakukan takfir (pengkafiran) namun tidak mempunyai bukti yang jelas URL yang dianggap melakukan upaya takfir kepada umat Islam. Sekelas situs Hidayatullah dan Dakwatuna, seringkali malah melakukan upaya pencegahan cara pengkafiran (takfir) kepada umat islam lainnya. Kok malah BNPT menuduh Hidayatullah dan Dakwatuna mengkafirkan umat Islam lainnya. Ini jelas BNPT yang melakukan paham takfiri.
Paham takfiri juga adalah paham yang gampang menganggap sesat umat islam lainnya, sebagaimana upaya BNPT tanpa bukti yang menganggap sesat media Islam dan berita Islam karena dianggap melakukan takfiri, padahal tidak.
Paham takfiri juga merupakan cara sekelompok golongan yang melakukan pengkafiran terhadap umat islam lainnya tanpa berkonsultasi dengan ulama. Ini sama dengan cara BNPT yang menjustifikasi situs Islam melakukan tindakan takfir tetapi BNPT sama sekali tidak berkonsultasi dengan para ulama dalam hal ini adalah (MUI).
BNPT Berkelakuan Seperti ISIS
Cara BNPT dan Kominfo dalam melakukan pemblokiran sepihak dengan hanya anggapan ada paham ‘Takfir’ pada beberapa media Islam dan situs berita Islam adalah upaya yang sama dilakukan pemerintahan ISIS (State of Iraq and Syam/Syria). Pemerintahan ISIS memerangi setiap orang dan kelompok yang dianggap berbeda pandangan dengan mereka. Dan cara ISIS ini ternyata sama dengan cara yang dilakukan oleh BNPT.
ISIS melakukan beragam cara untuk menjustifikasi lawan politiknya dan dihukum sekehendak mereka sendiri, dan lagi-lagi cara ini dilakukan juga oleh BNPT. Ini sama saja BNPT yang ingin memerangi ISIS tetapi melakukan cara yang sama dengan ISIS.
BNPT melakukan cara standar ganda, sama yang dilakukan oleh Amerika dan kita tahu bahwa ISIS merupakan kelompok bentukan CIA atas prakarsa pemerintahan Amerika. Ini sudah diakui oleh Hillary Clinton yang menyatakan ISIS adalah bentukan Amerika. Sama juga dengan Edward Snowden mantan pegawai NSA yang membocorkan rahasia Amerika bahwa ISIS hanya konspirasi bentukan dari Amerika.
Cara BNPT sama dengan cara Amerika dan cara ISIS, ini semakin membuktikan bahwa sebenarnya BNPT bukan ingin membungkam ISIS tetapi lebih kepada membredel media islam dan situs berita Islam yang tidak sehaluan dengan rezim Jokowi. Karena ternyata bahwa media Islam dan situs berita Islam yang dibredel adalah semuanya bukan pro rezim Jokowi.
Walaupun bukan pro rezim Jokowi, situs berita Islam dan media Islam tersebut tidak pernah menyerukan kekerasan apalagi melawan pemerintah dengan cara-cara kekerasan. Karena itu wilayah demokrasi yang menyatakan kebebasan berpendapat dan kebebasan menyuarakan pendapat dilakukan melalui situs media Islam dan berita Islam yang mereka kelola.
Budaya demokrasi mengenai kebebasan berpendapat dan menyuarakan pendapat serta ekspresi umat Islam, mestinya tidak dinodai oleh BNPT yang melakukan cara sepihak dan otoritarianisme. Dengan menuduh seenaknya dan melakukan cara seenaknya tanpa mengindahkan sama sekali tahap-tahap peraturan pemerintah dan UU yang berlaku. Cara ini sama juga dengan cara komunis yang bisa melakukan apa saja terhadap lawan politiknya.
Dengan ini setiap pengelola media apa saja harus semakin berhati-hati dan semakin berani, karena rezim Jokowi saat ini sangat membahayakan nilai demokrasi dan kebebasan berpendapat. Setiap orang dan media manapun bisa saja dibredel dengan berbagai alasan sepihak.
Karena itu, para media harusnya sudah sadar bahwa peran media jangan sampai hanya menjadi antek rezim. Tetapi menjadi penyeimbang mengenai informasi yang sebenarnya. Informasi yang berbeda dari apa yang dikeluarkan oleh pemerintahan. Karena tentu pemerintahan hanya akan selalu memberikan kabar baik tanpa memberikan informasi yang sebenar-benarnya.
Cara yang sama dilakukan rezim Soeharto, Orde Baru. Yang memonopoli berita, tetapi di rezim Orde Baru pembredelan media juga tidak semudah saat ini.
Ini Perlawanan PERS KAWAN!!!
from Suaranews http://ift.tt/1akIErp
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself