Imelda Tenyala
Semoga cerita ini menggugah hati para groupies revolusi mental. Atau setidaknya direnungkan.
Curhat seorang teman yang punya usaha kurir dokumen ke kantor-kantor.
Sejak sepeda motor dilarang lewat Sudirman, 12 cicilan motor, 15 anak buah, operasional kantor, biaya rumah tangga plus support bulanan ke orang tua jadi beban pikiran.
Dia juga cerita tentang ojek ASI yang sekarang sulit menjangkau wanita-wanita karier di kawasan Sudirman yang masih menyusui dan membutuhkan jasa antar jemput ASI yang cepat, murah dan menjamin kesegaran ASI supaya bayinya ga kelaparan.
emnb_81_5160982 Bukan cuma ojek ASI yang kusut mikir lahan usahanya terhambat, tapi juga ibu bekerja dan bayi-bayi mereka.
Banyak wanita yang terpaksa bekerja walau masih menyusui bayinya, karena kebutuhan hidup hanya akan terpenuhi bila ada 2 income.
Kalau ojek-ojek spesifik seperti mereka aja galau, bagaimana dgn ojek-ojek yang mangkal di mulut-mulut jalan menuju kawasan Sudirman yang kliennya random?
Cobalah alihkan energi yang selama ini dipakai untuk membully menjadi empati dan berpikir apa solusinya. Waktu doi cerita, muka-muka kaum bebal itu bersliweran di kepala gue.
Bagaimanapun, kalimat bukan urusan saya sangat tidak bijak dan tidak relevan digunakan dalam situasi seperti ini. Jangan jadi orang ignorant lah.
Efek domino dari cerita-cerita seperti di atas adalah potensi meningkatnya kriminalitas. Yang namanya kriminal itu ga lihat lu anak jenderal, bini bule, single parent, preman kampung, etc. Ada kesempatan, langsung disikat.
Kriminal-kriminal kepepet seperti itu bisa lebih bahaya drpd penjahat professional. Namanya orang kepepet, ada kesempatan, gelap mata, ga pake rencana atau strategi, aksinya spontan. Kalau ada indikasi si target melakukan perlawanan, timbul panik, lalu kalap membabi buta, si korban bisa aja dihabisi.
Oh ya, postingan ini udah seijin yang curhat. Cuma dia minta namanya ga usah disebut. Biasaaaa...maluuuu...tau dong lo...doi kemaren nyoblos siapeee...
Malah doi ngaku, si juragan ojek ASI itu dulu paling guaaalaaakkk kalo ada yang nyolek-nyolek si onoh. Doi merasa bisnisnya kebantu setelah ada perda agar ruang-ruang menyusui disediain di kantor-kantor. Eeee... sekarang ASInya kaga bisa dijemput. (mau ketawa tapi ga tega karena dalam kasus ini, bayi-bayi yang belum nyoblos juga kena spleteran kebijakan yang minim logika maksi pencitraan itu).
Biarpun kasian, sempetlah gue ngeledek: 'Asli bukan cuma otak lo yg direvolusi ya bo. Periuk nasi lo juga dijungkir-balikin.' Lirih dia nyaut: 'ho oh'.
I'm no angel gitu loooohhh... yang penting dia curhatnya ke gue, bukan ke sesama groupies. Mungkin dia sekarang nyadar, akal sehat tetep lebih juara daripada mereka yang terlena oleh soap opera.
Gue udah muak sama bully-bully yang cuma buat muasin ego norak. Kampungan! Ga nyelesain masalah!
Rakyat butuh makan. Pencitraan ga bisa dimakan!
*sumber: Facebook Tara Palasara
Sumber: intriknews
from Suaranews http://ift.tt/1ABQ7v0
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself