Materi pelajaran sekolah telah diberikan di dalam kelas, sebagai media pembantu untuk meneruskan dan memudahkan pencarian informasi mengenai tugas tugas sekolah dan untuk menambah pengetahuan siswa atau bahkan untuk guru, maka blog ini memuat beberapa materi sekolah yang mungkin akan berkaitan dengan pelajaran anda dan dapat dipakai sebagai referensi, selamat membaca - materi pelajaran online sekolah sd, smp , sma ini, semoga membantu Usaha-usaha Jepang dalam rangka menarik simpati rakyat Indonesia dilakukan dengan menggunakan berbagai propaganda yang cukup menarik, seperti "Jepang saudara tua dan Asia untuk Asia". Namun, dalam kenyataannya propaganda-propaganda tersebut hanyalah slogan semata karena semua kepentingan hanya digunakan untuk bangsa Jepang. Slogan Jepang sebagai saudara tua diartikan sebagai saudara tua yang harus selalu dihormati dan memimpin bangsa Indonesia. Kemakmuran bersama yang dijanjikan Jepang dalam kenyataannya adalah untuk kepentingan Jepang sendiri. Sumber-sumber ekonomi dieksploitasi dan diangkut ke Jepang, sedangkan tenaga kerja rakyat Indonesia dipaksa bekerja keras demi kemenangan bangsa Jepang.
a. Eksploitasi ekonomi
Dalam rangka menguasai sumber-sumber ekonomi Indonesia maka Jepang menyusun beberapa rencana, antara lain sebagai berikut.
1) Tahap penguasaan, yaitu menguasai seluruh kekayaan alam, termasuk kekayaan milik pemerintah Hindia Belanda.
2) Tahap penyusunan kembali struktur ekonomi wilayah dalam rangka memenuhi kebutuhan perang. Dalam tahap ini direncanakan setiap wilayah harus dapat mencukupi kebutuhannya sendiri untuk menunjang kebutuhan perang. Sejalan dengan kondisi perang maka memasuki tahun 1944 tuntutan kebutuhan pangan dan perang semakin meningkat. Oleh karena itu, pemerintah Jepang melalui organisasi Jawa Hokokai mulai melancarkan kampanye pengerahan barang dan bahan pangan secara besar-besaran. Untuk menyukseskan program tersebut Jawa Hokokai dibantu oleh beberapa organisasi seperti Nagyo Kumiai (Koperasi Pertanian) dan instansi pemerintah lainnya yang bertindak sebagai pelaksana teknis di lapangan. Pengerahan bahan makanan ini dilakukan dengan cara penyerahan padi atau hasil panen lainnya kepada pemerintah. Dari jumlah hasil panenan tersebut 40 persen dimiliki rakyat, sedangkan 60 persen sisanya masing-masing diserahkan kepada pemerintah Jepang 30 persen dan 30 persen lainnya diserahkan ke lumbung sebagai persediaan bibit.
Berbagai tindakan pemerintah Jepang tersebut menimbulkan kesengsaraan rakyat Indonesia. Penebangan hutan untuk pembukaan areal pertanian baru menyebabkan bahaya banjir, sedangkan penyerahan hasil panen menyebabkan rakyat kekurangan makan dan kelaparan. Akibatnya, bahaya kelaparan melanda di berbagai daerah dan timbul berbagai penyakit yang mengakibatkan angka kematian meningkat tajam.
b. Pengerahan tenaga kerja
Dalam bidang ketenagakerjaan, pemerintah Jepang banyak mengerahkan tenaga kerja secara paksa. Untuk mengerahkan tenaga kerja di desa-desa dibentuk panitia pengerahan tenaga kerja yang disebut rumokyokai. Adapun tugasnya adalah menyiapkan tenaga sesuai dengan jatah yang ditetapkan.
Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia tersebut maka Jepang menyebut para pekerja paksa tersebut dengan sebutan prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja. Selanjutnya, untuk memperlancar pelaksanaan program kerja paksa maka pada tahun 1944 pemerintah pendudukan Jepang juga memperkenalkan sistem tonarigumi (rukun tetangga) kepada penduduk. Sistem tonarigumi (rukun tetangga) merupakan kelompok-kelompok keluarga yang masing-masing beranggotakan 10-20 rumah tangga. Maksud didirikannya tonarigumi adalah untuk mengawasi penduduk, mengendalikan, dan memperlancar kewajiban yang dibebankan kepada rakyat.
Dengan demikian, tonarigumi merupakan organisasi sosial yang efektif untuk mengerahkan tenaga rakyat dan pengawasannya. Pengerahan tenaga kerja paksa yang dilakukan pada masa pendudukan Jepang adalah Romusha. Jepang sangat memerlukan banyak tenaga kerja, terutama untuk pembangunan sarana militer, seperti pembuatan benteng di atas tanah maupun di bawah tanah, lapangan terbang, jalan-jalan serta jembatan. Untuk keperluan tersebut maka dilakukan pengerahan tenaga penduduk secara paksa. Dalam kenyataannya para pekerja Romusha selain dipekerjakan secara paksa juga diperlakukan secara tidak manusiawi sehingga banyak yang meninggal karena mendapat penyiksaan atau kelaparan.
Selain pengerahan romusha, pemerintah Jepang juga merekrut para wanita dari berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Korea, dan China untuk dipekerjakan sebagai wanita penghibur tentara Jepang atau jugun ianfu. Diperkirakan selama Perang Pasifik, Jepang telah memaksa 200.000 wanita Asia untuk dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur tentara Jepang. Pada awalnya, para wanita dari berbagai negara Asia tersebut dijanjikan untuk menuntut ilmu di Jepang. Namun, dalam kenyataannya, para wanita tersebut malah dipekerjakan untuk memuaskan nafsu para prajurit Jepang yang sedang bertempur di medan Perang Pasifik.
jangan lupa tambahkan komentar dan berikanlah like atau share pengetahuan anda dan sebarkan apa yang anda baca hari ini, karena barang siapa membantu mendapatkan informasi bagi orang lain , maka dia adalah orang yang berguna , selamat beraktifitas kawan, semoga pelajaran dan artikel diatas dapat membantu menambah wawasan anda, barangkali ada informasi yang kurang atau salah, silahkan komenter dan beri masukan.
a. Eksploitasi ekonomi
Dalam rangka menguasai sumber-sumber ekonomi Indonesia maka Jepang menyusun beberapa rencana, antara lain sebagai berikut.
1) Tahap penguasaan, yaitu menguasai seluruh kekayaan alam, termasuk kekayaan milik pemerintah Hindia Belanda.
2) Tahap penyusunan kembali struktur ekonomi wilayah dalam rangka memenuhi kebutuhan perang. Dalam tahap ini direncanakan setiap wilayah harus dapat mencukupi kebutuhannya sendiri untuk menunjang kebutuhan perang. Sejalan dengan kondisi perang maka memasuki tahun 1944 tuntutan kebutuhan pangan dan perang semakin meningkat. Oleh karena itu, pemerintah Jepang melalui organisasi Jawa Hokokai mulai melancarkan kampanye pengerahan barang dan bahan pangan secara besar-besaran. Untuk menyukseskan program tersebut Jawa Hokokai dibantu oleh beberapa organisasi seperti Nagyo Kumiai (Koperasi Pertanian) dan instansi pemerintah lainnya yang bertindak sebagai pelaksana teknis di lapangan. Pengerahan bahan makanan ini dilakukan dengan cara penyerahan padi atau hasil panen lainnya kepada pemerintah. Dari jumlah hasil panenan tersebut 40 persen dimiliki rakyat, sedangkan 60 persen sisanya masing-masing diserahkan kepada pemerintah Jepang 30 persen dan 30 persen lainnya diserahkan ke lumbung sebagai persediaan bibit.
Berbagai tindakan pemerintah Jepang tersebut menimbulkan kesengsaraan rakyat Indonesia. Penebangan hutan untuk pembukaan areal pertanian baru menyebabkan bahaya banjir, sedangkan penyerahan hasil panen menyebabkan rakyat kekurangan makan dan kelaparan. Akibatnya, bahaya kelaparan melanda di berbagai daerah dan timbul berbagai penyakit yang mengakibatkan angka kematian meningkat tajam.
b. Pengerahan tenaga kerja
Dalam bidang ketenagakerjaan, pemerintah Jepang banyak mengerahkan tenaga kerja secara paksa. Untuk mengerahkan tenaga kerja di desa-desa dibentuk panitia pengerahan tenaga kerja yang disebut rumokyokai. Adapun tugasnya adalah menyiapkan tenaga sesuai dengan jatah yang ditetapkan.
Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia tersebut maka Jepang menyebut para pekerja paksa tersebut dengan sebutan prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja. Selanjutnya, untuk memperlancar pelaksanaan program kerja paksa maka pada tahun 1944 pemerintah pendudukan Jepang juga memperkenalkan sistem tonarigumi (rukun tetangga) kepada penduduk. Sistem tonarigumi (rukun tetangga) merupakan kelompok-kelompok keluarga yang masing-masing beranggotakan 10-20 rumah tangga. Maksud didirikannya tonarigumi adalah untuk mengawasi penduduk, mengendalikan, dan memperlancar kewajiban yang dibebankan kepada rakyat.
Dengan demikian, tonarigumi merupakan organisasi sosial yang efektif untuk mengerahkan tenaga rakyat dan pengawasannya. Pengerahan tenaga kerja paksa yang dilakukan pada masa pendudukan Jepang adalah Romusha. Jepang sangat memerlukan banyak tenaga kerja, terutama untuk pembangunan sarana militer, seperti pembuatan benteng di atas tanah maupun di bawah tanah, lapangan terbang, jalan-jalan serta jembatan. Untuk keperluan tersebut maka dilakukan pengerahan tenaga penduduk secara paksa. Dalam kenyataannya para pekerja Romusha selain dipekerjakan secara paksa juga diperlakukan secara tidak manusiawi sehingga banyak yang meninggal karena mendapat penyiksaan atau kelaparan.
Selain pengerahan romusha, pemerintah Jepang juga merekrut para wanita dari berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Korea, dan China untuk dipekerjakan sebagai wanita penghibur tentara Jepang atau jugun ianfu. Diperkirakan selama Perang Pasifik, Jepang telah memaksa 200.000 wanita Asia untuk dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur tentara Jepang. Pada awalnya, para wanita dari berbagai negara Asia tersebut dijanjikan untuk menuntut ilmu di Jepang. Namun, dalam kenyataannya, para wanita tersebut malah dipekerjakan untuk memuaskan nafsu para prajurit Jepang yang sedang bertempur di medan Perang Pasifik.
jangan lupa tambahkan komentar dan berikanlah like atau share pengetahuan anda dan sebarkan apa yang anda baca hari ini, karena barang siapa membantu mendapatkan informasi bagi orang lain , maka dia adalah orang yang berguna , selamat beraktifitas kawan, semoga pelajaran dan artikel diatas dapat membantu menambah wawasan anda, barangkali ada informasi yang kurang atau salah, silahkan komenter dan beri masukan.
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself