Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya! Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah -dan Allah lebih tahu siapa yang terluka di jalanNya- melainkan dia akan datang pada hari kiamat dengan darah yang berwarna darah (merah) sedangkan baunya seharum kesturi.” (HR. Bukhari)
Pemakaman massal korban longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menyimpan sejumlah misteri. Puluhan jenazah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Aliyan, Karangkobar.
Ada peristiwa tak biasa saat pemakaman dilakukan. Peristiwa itu dialami Iwan Suwandi (45 tahun), warga Dusun Aliyan, Desa Ambal.
Sebagai koordinator pemakaman korban longsor, Iwan mengetahui detail satu demi satu jenazah yang dikuburkan sejak empat hari lalu. Mulai dari keanehan jenazah tanpa kepala, kehilangan kaki dan tangan, hingga bau menyengat jenazah saat dimasukkan ke liang lahat.
"Sudah 25 jenazah sudah dikuburkan di sini. Ada 22 warga Jumblung, sementara dua orang belum diketahui identitasnya," ungkap Iwan, sembari meletakkan cangkul usai menggali liang besar untuk penguburan dua jenazah, Selasa, 16 Desember 2014.
Dari puluhan korban yang telah dikuburkan, ada dua pemakaman jenazah yang sampai sekarang menjadi tanda tanya dan misteri baginya. Keanehan itu terjadi tatkala Iwan menguburkan jenazah bernama Burham (50 tahun) dan Ahmad Fauzi (30 tahun) pada Senin, 14 Desember 2014.
Jenazah yang ditemukan pada evakuasi hari ketiga itu, kata Iwan, mengeluarkan bau yang berbeda dibanding jenazah lain. Meski kondisi tubuhnya telah hancur tertimpa timbunan tanah sejak Jumat pekan lalu.
"Dikuburkan di liang bersebelahan, tapi baunya sama, bukan bau obat tapi wangi menyengat seperti bunga," kata Iwan sambil menunjuk dua gundukan tanah yang merupakan makam kedua korban.
Jasad utuh
Satu lagi korban yang memiliki keanehan saat hendak dikuburkan. Jenazah itu bernama Klimah dan Diana. Mereka adalah ibu dan anak yang ditemukan lima hari setelah longsor.
Jasad keduanya masih sangat utuh dan bersih. Bau wewangian khas bunga melati semerbak saat pemakaman ibu dan anak itu.
"Itu dikuburkan kemarin sore. Saya heran sekali, jasadnya nggak bau, badan utuh, tidak ada bercak darah, padahal tertimpa reruntuhan," ujar Iwan, sesekali mengucapkan kalimat istighfar.
Karena melihat keistimewaan jenazah keduanya, Iwan sengaja meminta agar kedua korban dikuburkan dalam satu liang lahat.
"Ini adalah keajaiban Tuhan. Padahal yang lain kondisi tubuhnya banyak yang tidak utuh dan menyengat. Tapi penguburan ibu anak ini, saya bahkan tak pakai masker," kata Iwan.
Menurutnya, dalam satu lubang makam, biasanya ditempatkan dua atau maksimal empat jenazah. Kemudian makam itu akan ditandai dengan nisan sederhana dari kayu balok bertulis nama-nama jenazah.
Iwan adalah satu-satunya penggali kubur warga asli Aliyan. Rumahnya berada seratus meter dari pemakaman umum tersebut. Kisah misteri yang dialami Iwan bahkan tidak akan terlupa seumur hidup.
"Kita yang masih hidup, semoga bisa ambil hikmah atas tanda kekuasaan Tuhan ini," ujar Iwan.
Sumber: vivanews
from Suaranews http://ift.tt/13etsaU
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself