Oleh: Muhammad Fadri A R
Bismillah........
Assalamu'alaykum WW
Dear Mbak Meilanie,
Saya do'akan semoga anda diberikan Allah kesehatan dan kemudahan disetiap aktifitasnya dan dijauhkan dari aktifitas yg tdk bermanfaat, amiin.
Membaca tulisan anda (Yg banyak berseliweran di wall Timeline saya ) maka tergeraklah hati ini untuk menjawab tulisan anda pada kompasiana 3 hari ygll. Awalnya ragu utk menanggapi karena banyak diantara mereka yg memforward tulisan anda tersebut pada dasarnya tidak memahami substansi masalah, namun lebih kepada masih kentalnya tercium aroma rivalitas Pileg dan pilpres. Bukan keinginan untuk menggali informasi kebenaran terjadinya diskriminasi bagi wanita muslimah berhijab syar'i dan lelaki yg ingin memelihara jenggot dan bercelana cingkrang sesuai sunnah nabi SAW. Bahkan ada yg malah mempermasalahkan Bu Dwi yg sbg caleg Gagal di PKS, sehingga tanggapan yg muncul malah jauh dari yg diharapkan dan semakin tdk nyambung), namun karena tulisan anda tersebut (yg konon) sdh dibaca oleh puluhan ribu org di Kompasiana (Bisa jadi berlipat2 setelah diforward kemana2) maka saya coba tanggapi juga agar tidak berberpotensi semakin merusak Frame berfikir ummat Islam akibat tulisan tersebut.
Ibu Meilanie yg baik hati,
Ada beberapa hal yg perlu saya tanggapi:
Pada awal tulisan, anda sudah memulai dengan kalimat menyerang pribadi Sdri. Dwi Estiningsih tentang cara berpakaian beliau pada Foto pencalegannya saat Pileg ygll via PKS yg didapat di situs. wwwdotjariungudotcom. Tanggapan yg anda sampaikan menjadi terkesan permasalahan prbadi anda dengan Mbak Dwi Esti, dengan melakukan personal attack terhadap hal2 yang tidak ada relevansinya dengan Form bagi Assesor yang sudah tersebar kemana2. Dan tentu saja tidak lagi fokus kepada masalah dan substansi yg ingin disampaikan oleh Sdri. Dwi Estiningsih. Sebagai seorang lecturer dan Reasearcher pada IPB (saya lhat info profile anda), Ibu Meilanie tidak berhati2 dalam menanggapi sebuah tulisan (Emosikah?), sudah melakukan prejudice tanpa klarifikasi (Yg namanya Prejudice tentu saja tanpa klarifikasi ^_^) kepada Sdri. Dwi Esti dan PKS. Betulkah hijab yg ia kenakan sama dg hijab yg ia maksudkan pada Form Assesor tsb? Betulkah hijab yg ia kenakan sama dg Hijab pada Front Liner yg ia maksudkan atau hijab yg seperti anda kenakan? dsb?). Dan semakin kebablasan adalah ketika anda malah menggiring tulisan tersebut dengan melibatkan PKS secara institusi dalam hal ini. Saya capture tulisan anda
---------------------------------------------
(Meilainie said at kompasiana on Dec 23rd):
'......Sungguh aneh, Anda rela mengganti jilbab syar’i Anda dengan jilbab pendek untuk berfoto sebagai caleg PKS. Saya simpulkan bahwa partai Anda telah berlaku diskriminatif terhadap caleg wanita berjilbab syar’i.
Eh, sebentar sebentar. Sebuah partai Islam berlaku diskriminatif terhadap jilbaber syar’i.
“PKS BERLAKU DISKRIMINATIF TERHADAP CALEG BERJILBAB SYAR’I”
WOW!.....'
------------------------------------------
Nah asumsi dan syak wasangka anda ini terlalu kebablasan. Karena sebagai seorang kader, dan pengurus Partai, saya tahu betul justifikasi anda ini salah. Sangat banyak foto caleg muslimah dengan berbagai versi. Bahkan Saudari Dwi Esti sendiri menggunakan Hijab lebar yang ditutup Jas Partai bagi wanita (Panjang) dan tentu saja berbeda dengan Blazer yg anda dan kita fahami. Logika berfikir anda menjadi tidak konstruktif dan jauh dari fakta yang ada. Saya bisa memaklumi kenapa tulisan anda menjadi begitu happening oleh para pendukung Jokowi dan berseliweran di wall ataupun group2 yg saya ikuti. Mereka (dan anda jugakah?) menjadi begitu bersemangat menyerang Sdri. Dwi Estiningsih dan juga PKS disebabkan merasa 'ada yang masih belum selesai dengan rivalitas Pilpres beberapa waktu ygll dan merasa menyerang pemerintahan Jokowi?, sehingga substansi perjuangan Hijab Syar'i dan anti diskriminasi kepada para lelaki Muslim yg ingin memelhara janggut dan celana cingkrang menjadi bias dan terdistorsi (Sekalipun saya punya pandangan sendiri ttg larangan Isbal ini), juga kepada Muslimah yg ingin mengenakan hijab syar'i sesuai yg mereka yakini menjadi samar. Anda seperti membenarkan asumsi pada Form assesor itu bahwa: Yg syar'i itu terkesan tidak rapi dan tidak klimiis? Na'udzubillah! Maksudnya Rasulullah SAW dan para sahabat tidak rapi begitu?
(Cat: Saya tidak akan terlalu membahas tentang batasan2 dan model hijab syar'i, karena sangat banyak pada literatur Islam dan internet.)
Bahkan dalam 'husnudzhon' anda bahwa sekalipun Form tersebut benar (?), anda terkesan tetap mendukung kebijakan tsb bahwa Front liner tidak boleh diisi oleh org2 yg berhijab lebar dan lelaki berjenggot karena tidak pantas dan tidak tepat?
Hellloo......(hehe...jadi ikutan gaya tulisan anda nih), saudariku, BUMN itu adalah perusahaan negara (Anda masih ingat kan? *eh). Maka siapapun warga Indonesia berhak utk mengikuti seleksi penerimaan pegawai BUMN dgn syarat2 kompetensi yg ada, bukan syarat2 yg dibuat sangat diskriminatif dan berpotensi pelecehan SARA. Jangan2 karena syarat2 yg dipaksakan (Insya Allah tidak), nanti dibuat syarat kekhususan bagi Front Liner pada salah satu item (salah 2,3,4,5...) seleksi bagi karyawan BUMN adalah seorang artis dan foto model? atau pernah ikut lomba kecantikan tingkat Rt? Atau mungkin syarat seseorang yg berdarah dari suku tertentu dan dikenal punya keturunan kulit dan wajah yg cantik (apa hayo?). SubhanAllah, itukah yang anda inginkan?Na'udzubillah tsumma na'udzubillah........................**Lambaikan tangan dan angkat bendera putih**
Adapun mengenai pertanyaan ratusan org ttg orisinilitas form tsb (ataupun syarat2 bagi assesor tsb) sdh dijawab oleh Bu Dwi pada status dan komen beliau bahwa itu adalah benar. Keyakinan saya bahwa, beliau dengan pertimbangan yg matang 'senjata rahasia' tsb ia simpan yg apabila diperlukan pada akhirnya (mis: Tuntutan dari BUMN) akan ia keluarkan. Adapun jawaban dan bantahan oleh Humas BUMN dan Wapres Jusuf Kalla ttg pelarangan jilbab jelas tidak ada relevansinya. Karena yg diperjuangkan Sdri. Dwi Esti ini adalah hijab Syar'i dan lelaki yg memelihara janggutnya, bukan tentang pelarangan jilbab! Maka tuduhan beliau (termasuk bukti tsb) masih berlaku (sampai ada bantahan tdk ada diskriminasi kepada wanita muslimah berhijab lebar dan lelaki yg berjanggut serta bercelana cingkrang! (Masak saya harus memberi komparasi ttg seorng menteri bertatoo dan seorang presiden (disebuah negara) yg setiap hari kerja sering mengeluarkan bajunya, bahwa mereka juga menurut anda tdk pantas karena tidak rapi dan tidak klimis? ^_^)
Sdri Meilanie yg baik hati,
Saya menghormati anda sebagai seorang akademisi karena perhatian (dan saya yakin juga banyak org) akan bidang pendidikan dan keilmuan sangat tinggi. Maka orang2 yg mengabdikan diri didalamnya adalah orang2 yang harus diberikan penghormatan yg baik. Namun karena rasa sayang saya kepada Anda, Sdri. Dwi Estiningsih dan kepada org2 yg memperjuangkan kebenaran maka saya terpaksa menulis ini. Saya tidak tahu apakah akan sampai kepada anda utk dibaca atau tidak, namun setidaknya saya berharap adanya second opinion atas tanggapan tulisan tersebut dan mengembalikan 'on the track' semangat perjuangan Bu Dwi Estiningsih ini. Selaku muslim saya (dan juga Bu Meilanie) tentu harus meninggikan Allah dan Rasulullah atas apapun juga.
kepada para aktivis HAM dan anti diskriminasi saya himbau juga utk memperjuangkan hak2 yg sangat privacy ini. Bahkan bagi saudara2 yg non muslim ingin menggunakan pakaian yg sesuai keyakinan agamanya masing2 juga pantas diperjuangkan sama. Harus kita dukung. Jangan sampai ada kesan bahwa telah terjadinya tyrani minoritas kepada mayoritas! (Pun sebaliknya)Tentu kita tidk mau......Kita ingin bangsa ini menjadi pemimpin dunia dan dihormati. Kita semua saling menjaga kedamaian dan kesantunan bangsa yg sdh dikenal oleh mancanegara. Kalaupun ada kritikan kepada Presiden Jokowi (sekali lagi) bukan karena rivalitas Pilpres ataupun pileg, namun lebih kepada keinginan kita agar negeri ini menjadi adil dan makmur serta pemerintahan yg baik dan bersih.Presiden terpilih haruslah berupaya merealisasikan janji2nya. Kita kritik bukan karena benci (apalagi ingin menurunkannya), namun karena ingin adanya perbaikan kpd arah yg lebih baik dan menjaga tidak terjadinya pemerintahan yg otolitarian ( karena tdk mau dikritik). Beda antara mencaci dan menghina adalah: adanya keinginan uttk memperbaiki, sementara hinaan/cacian tidak menginginkan perbaikan apapun kepada orang yang dihina!
Demikianlah tanggapan ini saya tulis, mudah2an dapat berkenan dan kita berdo'a agar bangsa ini menjadi lebih baik serta khususnya perjuangan saudara2 kita yg ingin beraktualisasi di BUMN(D) tidak menghalangi mereka utk tetapdekat kepada Allah dan menegakkan sunnah2 Rasulullah. Jika ada yg salah ataupun kurang berkenan mohon dima'afkan.......dan kepada Allah kita mohon ampun.
Oh ya Mbak Meilanie, saran saya ada baiknya meminta ma'af kepada Bu Dwi Estiningsih dan mari sama2 kita memperjuangkan Hijab Syar'i (Bagi muslimah) dan membolehkan Janggut dan celana cingkrang (Bagi pria) di semua BUMN. Semoga menjadi amal sholih dan dihitung sebagai pahala jihad kita, amiin.
Terakhir saya kutip hadist sembari berharap semoga Allah menjaga lisan2 dan tulisan kita dan Allah beri kebaikan yg banyak akan hal tersebut.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478).
aw kama qol.....
Wallahua'lam bisshowab wal Musta'an........
from Suaranews http://www.suaranews.com/2014/12/meluruskan-kembali-salah-kaprah-tentang.html
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself