Halloween party ideas 2015

ilustrasi

 Lima kecamatan di Kutai Timur (Kutim) belum menikmati listrik dari PLN. Data dari PLN Rayon Sangatta, kecamatan itu adalah Busang, Long Mesangat, Rantau Pulung, Kaubun, dan Sandaran. Bagaimana kondisinya? Berikut gambaran di salah satu desa di Rantau Pulung yang disambangi Kaltim Post, Sabtu (10/9).

            Denny Saputra, Rantau Pulung

            AKSES dari Sangatta menuju Rantau Pulung relatif mulus. Perjalanan pun berjalan halus. Tanpa getaran dan goncangan berarti. Butuh waktu sekira 40 menit untuk bisa menembus Rantau Pulung dari pusat kabupaten. Kecamatan ini mulai ramai penduduk sejak 1993. Adalah program transmigrasi dari pulau Jawa yang membuat kawasan ini berdenyut. Sayangnya, sejak saat itu warga belum pernah menikmati listrik dari perusahaan negara.

                       Bantuan pemerintah melalui program listrik desa dari PNPM maupun CSR perusahaan batu bara pun baru masuk pada 2013. Saat itu, tiap desa mendapat mesin generator set (genset) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Beberapa desa sudah menikmati listrik dari genset rata-rata 12 jam. Dari pukul 18.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita. Namun ada tiga desa yang masih menikmati listrik enam jam per harinya. Dari pukul 18.00 Wita hingga 00.00 Wita. Yakni Desa Manunggal Jaya (SP 5), Tanjung Labu (SP 6), dan Tepian Makmur (SP 8).

 Menurut Pj Kades Desa Tanjung Labu, Suriandono, dari tiga desa tersebut yang paling parah Tanjung Labu. Desa ini paling terpencil di Rantau Pulung. Sementara Bumdes-nya juga sementara belum berjalan maksimal. “Jumlah penduduknya 250 KK (kepala keluarga). Kebanyakan buruh serta petani sawit sehingga penghasilan mereka rata-rata kecil untuk bisa mengeluarkan uang lebih banyak demi listrik,” ucapnya.

            Suriandono yang tinggal di Desa Manunggal Jaya mengaku menghabiskan duit rata-rata per bulan mencapai Rp 400 ribu. Angka yang berlipat-lipat dibanding rupiah yang dikeluarkan satu rumah untuk listrik di perkotaan. Mirisnya, angka yang dikeluargan Suriandono itu bukan untuk listrik 24 jam. Rp 400 ribu itu untuk beberapa lampu dan TV yang menyala hanya sekira enam jam per hari. Dulu dia pernah menyalakan kulkas, namun listrik yang dibayarkan sampai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. “Makanya sekarang kulkas sengaja tidak saya nyalakan biaya listriknya sangat tinggi," katanya. Jadi, listrik setelah pukul 00.00 Wita, warga beralih ke solar cell kapasitas 5.400 mAh yang sanggup menyalakan dua lampu hingga pagi. Solar cell dibagikan pemerintah desa kepada masyarakat.

            Tak hanya listrik yang membuat warga di kecamatan ini menerita. Ketersediaan air bersih pun serupa. Di Rantau Pulung hanya Desa Rantau Makmur (SP 4) yang punya pengolahan air sekelas PDAM. Desa lain hanya mengandalkan tampungan air hujan serta danau-danau alami yang airnya biasa dibeli dengan harga Rp 75 ribu per 1.200 liter (1 tandon). “Satu tandon hanya untuk tiga sampai empat hari. Pengeluaran air juga rata-rata Rp 400 ribu tiap bulan. Namun kalau musim hujan bisa berhemat karena ada penampungan air hujan,” sebutnya.

            Dia berharap Pemkab Kutim maupun pemerintah pusat bisa segera memenuhi kebutuhan dasar seperti listrik dan air sehingga geliat pembangunan dan perputaran ekonomi warga Rantau Pulung bisa bergeliat. “Kalau ada listrik Rantau Pulung akan lebih cepat berkembang,” ungkapnya.

            SATU LAMPU, SATU TV

            Genset menjadi harapan satu-satunya warga Rantau Pulung. Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi penerangan rumah hingga untuk menonton televisi sebagai hiburan. Untuk menikmati fasilitas itu mau tidak mau harus menyiapkan duit lebih banyak. “Saya cuma punya satu lampu dan satu TV tetapi per bulan bisa membayar listrik mencapai Rp 180 ribu, mau tidak mau daripada tidak ada,” ucap Sudiro, salah satu warga Desa Manunggal Jaya.

            Angka tersebut lebih murah ketimbang listrik dari genset pribadi. Selain biaya solar yang mahal belum lagi perawatan. Sudiro yang juga berprofesi sebagai Sekretaris Bumdes Mulya Jaya sekaligus pengelola listrik Desa Manunggal Jaya ini, menjelaskan dengan adanya program listrik desa banyak warga yang dulunya punya genset pribadi beralih menyambung listrik ke genset desa. “Tentunya lebih murah dari pada genset pribadi,” ucapnya.

 Desa Manunggal Jaya punya dua genset dengan masing-masing kapasitas 15 kva. Dipakai bergiliran. Ini dilakukan supaya mesin lebih awet dan bila ada kerusakan di salah satu mesin, yang lain bisa membantu. “Ini satu-satunya sumber listrik kami, makanya kami merawat dengan baik,” ucapnya.

             Mengapa tidak mengalirkan listrik 12 jam per hari seperti desa lain, ini semata-mata lantara jumlah pemasang hanya 215 KK dari total 350 KK. Sehingga perhitungan sementara Bumdes hanya mendapat untung kecil. Padahal mereka harus mencari modal untuk menutupi biaya operasional. “Alasan lain juga warga tidak mau kalau listriknya 12 jam karena biayanya pasti bisa dua kali lipat. Sementara dini hari hingga pagi listrik tidak terlalu dibutuhkan,” ucapnya.

             Darti, warga Desa Manunggal Jaya lainnya, berharap pemerintah segera menepati janji untuk memenuhi kebutuhan listrik dan air. “Bupati terpilih pernah janji ke masyarakat Rantau Pulung akan menuntaskan masalah listrik dan air. Kami menunggu realisasi janji itu,” harapnya.

            Mendengar informasi di media, kalau PLN membangun jaringan dari Sangatta ke Rantau Pulung, Darti mengaku senang. Dia juga berharap agar bisa segera terealisasi. “Kami sudah sangat merindukan listrik PLN untuk meringankan beban pengeluaran rumah tangga,” katanya. Dari pantauan media ini saat perjalanan ke Rantau Pulung dari Sangatta akhir pekan lalu, belum terlihat pembangunan tiang listrik.

Sumber: kaltimprokal

from Suaranews http://ift.tt/2cSXaNh
via Berita Indonesia, SuaraNews, semua artikel resmi dari suaranews, silahkan kunjungi website suaranews untuk mendapatkan informasi dan berita yang lebih lengkap. nikmati terus informasi terbaru dan berita aktual lainnya juga. selamat beraktivitas

Post a Comment

This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself

Powered by Blogger.