
PB, Jakarta – Ketika masih sempat berjibaku di Maluku Utara, khususnya di bekas wilayah Tobelo Halmahera Utara, Malut, saya berteman akrab dengan “Petinggi” Kompi C 732 Banau, yang memang bertempat di Kota Tobelo terpisah dengan Kompi A, B dan Kompi D yang saat ini menjadi satu di Jailolo Halmahera Barat, yang kemudian dipisahkan ke Ternate dan Sofifi, sebagai Ibukota Propinsi Malut.
Pertemanan saya dengan ketiga perwira menengah ini, disebabkan karena pekerjaan yang memang menuntut untuk selalu dekat dengan mereka, dan salah satunya adalah Komandan Peleton (Danton) 3 Lettu Inf. Putra Andika.
Kedekatan kami berdua bisa dikatakan sangat akrab, bahkan kami sering mendapat undangan untuk menghadiri acara-acara pesta muda-mudi ataupun perkawinan.
Dan salah satu kebiasaan Putra adalah menyuruh anggota Kompi yang ikut dengannya untuk menyanyi, walaupun sebenarnya si anggota sama sekali tidak bisa menyanyi, karena merasa suaranya pas-pasan.
Namun salah satu alasan Putra adalah, “Yang namanya Tentara tidak boleh mengatakan tidak jika sudah disuruh oleh komandan, bisa atau gak bisa harus dilaksanakan,” ujar Putra kepada saya beberapa tahun silam.
Dan kali ini saya kembali melihat “Ajaran” bagi seorang Prajurit TNI, yang pernah dikatakan Putra Andika. Ketika Agus merasa mantap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara untuk ikut menyumbangkan pikiran dan inovasi serta kreatifitas dan ide segar bagi Jakarta khususnya dan Indonesia secara keseluruhan.
“Bagi seorang TNI mengabdi itu bisa dilakukan dimana saja, maka saya memilih untuk mengabdi kepada bangsa dan negara melalui pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta,” ujar Agus di beberapa kesempatan.
Jawaban itu juga sekaligus untuk menjawab, pertanyaan orang-orang yang menganggap Agus telah salah langkah, dengan meninggalkan karirnya di Militer dan memasuki dunia Politik yang penuh intrik dan “tipu muslihat” dengan segala pernak-perniknya.
Hal itulah mungkin yang dianggap oleh seorang Ruhut Sitompul yang dengan ucapan yang mencoba mengecilkan Agus dengan mengatakan masih “Anak Ingusan” yang terlalu gegabah untuk memasuki wilayah politik.
Namun Agus rupanya tidak tinggal diam, bahkan sebagai seorang yang di didik dalam lingkup militer, khususnya di jenjang perwira, sudah tentu Agus telah disiapkan untuk menjadi seorang pemimpin, karena usai menyelesaikan pendidikannya di Taruna Akademi Militer, Agus dan lainnya sudah mendapatkan porsi untuk memegang komandan pasukan, walaupun masih dalam kategori “Pasukan Kecil” yang beranggotakan 16 orang.
Karir Militer Agus yang cemerlang, bahkan dipuji langsung oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurtmantyo, sebagai salah satu Taruna TNI yang lulus dengan nilai tertinggi dan belum ada yang mengalahkan rekornya. Itulah yang disayangkan oleh masyarakat. Namun seperti yang sudah diucapkan Agus, jika berbakti kepada negara bukan hanya di satu wilayah, namun banyak wilayah.
Saya sendiri awalnya masih belum bisa menerima Agus, namun jika diberikan pilihan lain, saya menganggap seorang Agus masih jauh lebih baik dibandingkan yang lainnya.
Alasan utama, karena selain muda, Agus juga memiliki jiwa seorang pemikir dan seorang yang profesional, baik dalam bersikap maupun dalam bertutur, bahkan dalam sebuah acara di MetroTV “Mata Najwa” terlihat berbagai pertanyaan dari Najwa Shihab justru dijawab dengan elegan dan bisa dikatakan sangat cerdas dibandingkan pasangan lainnya.
Saya tidak bermaksud mengecilkan seorang Anies Baswedan, namun track record politiknya, bagi saya kurang mengasyikkan, dikarenakan Anies seperti seorang politikus yang sangat mudah terpengaruh dan dibuat menjadi “Pengekor” yang loyalis bagi orang yang memerlukannya, dan asalkan tujuan politiknya untuk tampil kedepan terpenuhi, Anies selalu siap.
Kalau soal Ahok saya rasa tidak perlu dijelaskan, yang pasti sejak mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur saya sudah tidak suka, namun alasan itu adalah ruang pribadi saya…!!!!!
Pilihan saya jatuh kepada Agus, selain karena cerdas dan pandai dalam meletakkan dirinya, juga bayang-bayang seorang SBY yang menempel, pelan namun pasti sudah mulai berubah menjadi sosok Agus pribadi, yang mampu menempatkan diri diantara para politikus yang sudah lebih dulu “Menelan ingus” mereka sendiri.
Kepiwaian Agus dalam me-manage perjalanan hidupnya, rupanya mulai secara pelan terlihat, bahkan saya yakin jika Agus akan menjadi salah satu tokoh Nasional yang akan bangkit mewakili “Kaum Muda Indonesia
Maka saya berkeyakinan jika ucapan Soekarno yang mengatakan “Berikan Saya 10 Pemuda Maka Saya Akan Guncangkan Dunia” terlihat dalam penempatan seorang Agus, yang secara mengejutkan muncul dan telah menguncangkan hati Warga Kota Jakarta untuk meraih impian bersamanya, maka wajalah jika saya sebut Agus Harimurti Yudhoyono adalah, “The Right Man On The Right Place In The Right Time”.
Kita tunggu sepak terjang Agus Harimurti Yudhoyono dalam kancah Politik Nasional kedepannya.
Penulis ; A. Jall Jazz Pomone
Semua berita terbaru akan terus disajikan dalam blog brainbodymind, selamat membaca, dan jangan lupa untuk terus berlanganan blog ini.
Post a Comment
This blog needed you to understand the word spam - never spam on this blog, although i will not moderate all of it, but you will learn it yourself, educate yourself